My Life as A Graphic Designer

by Silvia Natalia

Sebulan sudah berlalu di 2019, ada saja dorongan untuk coba mengenang dan kilas balik kehidupan. Mungkin karena masih nuansa ‘tahun baru’ ya hehe.. Judul tulisan ini adalah My Life as A Graphic Designer, sejujurnya, saya bingung mau mencantumkan Graphic Designer di sana. Karena sebenarny pekerjaan yang saya lakoni tidak melulu graphic designer. Tapi di masyarakat Indonesia ini yang paling dikenal memang istilah Graphic Designer. Kalau ditanya, “Kerjaan kamu apa?” Paling gampang jawabnya ya Graphic Designer, padahal pekerjaan yang saya lakoni cukup bervariasi, mulai dari Ilustrator anak-anak, UI/ UX Designer, dan yang terakhir jadi Graphic Contributor. Sempat teman-teman yang tahu saya ini Graphic Designer kadang minta dibuatkan logo, padahal bikin logo aja tidak pernah dan tidak tahu teori ataupun tekniknya. Akhirnya jadi sim salabim deh.. Tapi overall ya.. mungkin mirip dengan lulusan sarjana Teknik Informatika, yang dipikirnya kalau lulusan tersebut pasti bisa benerin komputer yang rusak! Padahal ngga belajar itu di kuliah kan? Haha.. oh ya, saya ini lulusan Teknik Informatika, bukan DKV loh ya. Pada bingung yang baca habis ini deh :p

 

Kuliah jurusan Teknik Informatika di Bina Nusantara 2008-2012

Oke, jadi ‘startnya’ saya adalah berkuliah di jurusan Teknik Informatika. Walaupun dari SD saya sudah senang menggambar, sempat bikin komik juga dengan teman-teman di SMP dan terus suka menggambar dengan style komik Jepang, dan saya ingin sekali kuliah DKV, namun, saya tidak bisa masuk ke jurusan DKV karena orang tua tidak bisa membiayai perkuliahan saya. Jadi waktu itu saya mengambil beasiswa ikatan dinas dari tempat saya bersekolah. Beasiswa tersebut tidak menyediakan jurusan DKV, sedih sekali waktu dulu itu karena saya tidak bisa kuliah di jurusan yang saya inginkan. Tapi kalau dipikir sekarang juga tidak apa-apa sih, memang jodoh ga kemana-mana yaa. Akhirnya saya ambil Teknik Informatika, yang entah kenapa saya ambil itu, mungkin karena saya pikir masih nyambung kali ya. Tapi ternyata di kuliah Teknik Informatika yang dipelajari itu.. ah.. apa sih.. belajar bahasa komputer rupanya. Koding yang tidak karuan.. sulit dipahami logika saya yang terbatas dan.. belajar aljabar dan statistik lagi.. Namun saya berhasil lulus dengan ip 3,6. Menjelang lulus, saya harus ingat dengan ikatan dinas di sekolah saya, dimana saya akan mengabdi di sana selama 3,5 tahun dan kira-kira saya bayangkan, di sana saya akan jadi guru komputer. Judulnya clickbait ya, dimana graphic designernya nih?! Namun saya bersyukur pada Tuhan, saya masih bisa berkuliah waktu itu dengan beasiswa full, padahal nilai raport saya di ambang batas tidak layak, jadi saya bukannya pintar lalu dapat beasiswa ya.. Nilai matematika, fisika, kimia saya… wow.. parah..

 

Ikatan Dinas 3,5 tahun 2012-2015

Selain kuliah gratis, saya bersyukur pada Tuhan juga, karena dengan ikatan dinas ini setelah lulus kuliah langsung dapat pekerjaan! Biasanya setelah sidang akhir, masih harus menunggu kelulusan (acara mahasiswa yang pakai toga-toga) sekitar 3 bulan. Daripada nganggur saya pikir lebih baik langsung saja ke tempat ikatan dinas dan bilang sudah lulus. Ternyata saya diterima dan langsung boleh bekerja minggu depannya (setelah melewati tahapan psikotes dan interview). Saat itu saya diperbantukan di kantor pusat, karena tahun ajaran baru belum mulai dan masih dipertimbangkan saya akan menjadi guru komputer di cabang sekolah yang mana. Di kantor pusat, pekerjaan saya membantu beberapa staf ahli TK, SD, SMP dan SMA. Pas sekali ketika itu mereka sedang ada projek membuat buku pelajaran. Nah, berbekal pengetahuan yang terbatas, saya mencoba membuat buku dengan Adobe Indesign. Semasa kuliah saya sempat menyentuh program tersebut untuk membuat warta persekutuan mahasiswa Kristen. Oke.. warta yang hanya 8 halaman dan buku yang puluhan halaman memang jauh banget. Dan berbekal kemampuan menggambar ala komik Jepang sewaktu SMP-SMA saya membuat ilustrasi-ilustrasi dengan Adobe Illustrator dan Adobe Photoshop. How funny life is?! Memang kuliah ga nyambung, tapi saya diperlengkapi dengan skill-skill designer di luar ilmu perkuliahan semasa hidup saya. God is unpredictable and GOOD!

Melihat saya mampu membuat buku dan ilustrasi, rekan saya melaporkan pada atasan saya supaya saya ditempatkan saja di kantor pusat untuk membantu rekan-rekan membuat buku. Karena title “Graphic Designer” tidak ada di struktur divisi tersebut, jadilah saya resmi sebagai “Admin” dengan jobdesk desainer grafis. Selama 3,5 tahun saya bersama rekan membuat buku TK dan SD. Hingga akhirnya 3,5 tahun berlalu dan projek membuat buku dihentikan, otomatis saya kehilangan jobdesk tersebut yang membuat saya akhirnya ditempatkan untuk menjaga perpustakaan kantor pusat. Masa ikatan dinas telah berakhir, mungkin itulah saatnya saya dapat mencoba tempat pekerjaan yang baru.

Kerja di Startup 2015-2016

Di tahun 2015 lagi populer-populernya kata “Startup” disebabkan munculnya startup transportasi, travel, commerce, makanan, kupon voucher dan lain-lain. Berkat para startup tersebut, munculah pekerjaan yang cukup primadona dikalangan desainer grafis dengan kabar bahwa gajinya cukup tinggi. Pekerjaan tersebut adalah “UI/UX Designer”.

Selain UI/UX Designer, saya sempat juga mempertimbangkan untuk ke industri game/ animasi 3D. Sempat saya menjalankan kursus 3D selama beberapa bulan, sebulan 4 kali pertemuan, dengan biaya 1 juta per bulannya. Dengan biaya kursus yang cukup mahal bagi saya, kemudian saya jadi bertanya-tanya, berapa sih gaji 3D Modeller?? Setelah coba melamar di salah satu studio 3D yang cukup dikenal (pemilik studio ini sempat diwawancara beberapa stasiun TV) saya terbentur kenyataan bahwa gajinya ternyata dekat dengan batas UMR. Hal ini membuat saya jadi yakin harus ke jalur UI/UX. Gaji jadi pertimbangan saya karena ada biaya keluarga inti yang harus ditanggung serta biaya adik untuk bisa kuliah.

Sebagai seorang ilustrator anak-anak dan layouter buku di tempat saya bekerja dulu, gajinya termasuk tinggi. Setelah dipotong pajak, dll, take home pay saya sekitar 7 juta lebih sedikit. Jika saya bekerja sebagai ilustrator di tempat lain, gajinya tidak setinggi itu. Ada yang bilang, pertahankan saja kerja di tempat ikatan dinas tersebut, enak, hanya jaga perpustakaan saja digaji seperti itu. Tapi dalam hati saya, kalau lama-lama hanya jaga perpustakaan saja, saya bisa jadi bodoh, skill tidak berkembang. Maka dari itu jadilah saya resign dari tempat tersebut.

Kebetulan sekali, ada teman saya yang dari awal lulus bekerja sebagai UI Designer (hidup tidak ada yang kebetulan ya :p). Jadi teman saya ini semenjak kerja praktik sudah mengerjakan UI aplikasi BBM dan karirnya dilanjutkan terus ke startup! Setelah menyerahkan surat resign barulah saya mengontak dia.. dan ada lowongan! Lowongan jadi Junior UI/UX Designer, dengan gaji 4 jt rupiah. Yang saya pikir lumayan juga setara dengan kerjaan di dunia 3D yang saya coba lamar sebelumnya. Jadilah saya kerja di startup tersebut, belajar skill UI Designer langsung dari teman saya yang termasuk salah satu the best UI Designer. Walaupun ada perasaan sedih karena gaji turun hampir setengahnya, namun semuanya terobati setelah setahun belajar di sana. Di tempat inilah saya belajar menggunakan program Sketch dan tools InvisionApp serta workflow pengerjaan website dan aplikasi.

Remote Worker 2016-2017

Di tahun ini, isu yang lagi hot adalah krisis di Eropa sana. Hal ini menyebabkan pemilik-pemilik usaha di Eropa mencari pekerja di luar negaranya dengan biaya yang lebih murah. Indonesia adalah salah satu negara dengan SDM yang masih murah bagi orang Eropa. Dengan biaya 3000 euro di Eropa hanya bisa membayar satu pekerja selama sebulan, maka dengan biaya yang sama di Indonesia bisa membayar 4-5 pekerja selama sebulan. What a great deal!

Dengan latar belakang tersebut, munculah satu tawaran pekerjaan melalui inbox LinkedIn. Ada satu perusahaan dari Belanda yang sedang membuat tim di Indonesia untuk mengerjakan projek-projeknya dan sedang mencari UI Designer. Nampaknya perushaan tersebut sempat melihat portolio UI yang saya taruh di halaman LinkedIn. Ada tes yang harus saya kerjakan dan berbekal pengalaman setahun di pekerjaan UI sebelumnya saya berhasil lolos. YAY! Gaji yang diberikan saat itu adalah 7 Euro per jam. Inilah awal pengalaman saya sebagai pekerja remote. Untuk yang masih belum familiar dengan istilah “Remote Worker”, simpelnya adalah bekerja bagi suatu perusahaan dengan waktu kerja dan lokasi yang fleksibel.

Di tempat inilah saya belajar banyak hal lagi tentang flow pengerjaan suatu web dan aplikasi yang lebih sistematis, karena project managernya adalah orang bule. Dimana orang bule biasanya mengerjakan sesuatu lebih mengikuti metodologi dan flow yang lebih teoritis. Jika di startup sebelumnya semua dikerjakan dengan sedikit teori dan lebih banyak improvisasi, di sini project manager lebih berpengalaman, sehingga flow kerjanya lebih teratur dan enak. Hanya saja tools yang digunakan adalah tools yang sudah cukup old, untuk membuat UX nya mereka menggunakan Balsamiq (pasti UX Designer jaman now ga tahu).

Setelah sekian puluh desain web, aplikasi dan branding yang saya buat. Tibalah masa ‘burnout’ dimana saya merasa lelah. Dengan sistem gaji perjam, saya menemukan diri saya mengejar total jam kerja yang banyak. Seringkali saya bekerja hingga tengah malam dan masih bekerja di Sabtu dan Minggu. Saat itu saya sudah menikah dan hal ini membuat saya tidak ada waktu untuk keluarga inti dan keluarga besar saya. Banyak waktu dihabiskan di depan laptop dan komputer yang membuat saya berpikir, apakah hidup harus seperti ini? Galau banget ya :p

Microstock Contributor 2017-now

Berkat segala kegalauan tersebut, teringatlah saya pada dunia microstock yang sempat saya coba di tahun 2013. Ada sekitar 50 gambar yang saya taruh di sebuah situs microstock yang ternyata dari tahun 2013 hingga 2017 tetap menghasilkan uang. Jumlahnya tidak besar, hanya 20-40 dolar per bulannya. Melihat hal tersebut, saya ingin mencoba untuk menambah gambar dan berharap apakah bisa jumlah yang dihasilkan bertambah perbulannya? Sempat juga saya ketika bekerja di startup, mendaftar untuk jadi kontributor di web microstock yang baru. Dengan 50 gambar tersebut rupanya menghasilkan sekitar 100 an dolar per bulannya yang jumlah nya terus menurun di bulan-bulan berikutnya karena saya tidak pernah upload lagi. Mungkinkan ini bisa menjadi penghasilan yang stabil per bulannya jika saya rajin menambah jumlah gambar?

Bermodal nekat (lagi-lagi), saya berhenti dari pekerjaan remote worker dan berjanji pada diri sendiri, jika dalam 3 bulan saya mencoba dunia microstock ini dan tidak menghasilkan uang bulanan yang cukup untuk hidup, maka saya akan kembali mencari pekerjaan tetap atau kantoran.  Beruntungnya, dalam 3 bulan  penghasilan yang didapat di bulan ke 3 sudah sama dengan pekerjaan sebagai remote worker dulu.  Mengenai ini dapat dibaca di dalam tulisan saya mengenai “Berapa sih Penghasilan Kontributor Freepik”.

Dengan menjadi kontributor, seberapa keras kamu ingin bekerja, ditentukan oleh diri kamu sendiri. Mengenai seberapa penghasilan, ada faktor seberapa keras kamu bekerja menghasilkan banyak gambar, namun juga ada faktor luar, yaitu market. Butuh riset khusus untuk tahu apa yang sedang trend dan apa yang dibutuhkan oleh market. Di tahapan ini saya belajar untuk manajemen diri dan waktu serta belajar manajemen tim. Saat ini saya sedang memanage tim desain yang berisikan 3 orang desainer remote. Manajemen tim remote ini saya pelajari di pekerjaan saya sebelumnya yang memang juga pekerja remote. Did you see it again? How funny and unpredictable life is? Sekali lagi Tuhan memperlengkapi skill yang dibutuhkan untuk menjalankan kehidupan dengan caraNya yang unik.

Well, ini update paling terakhir dalam kehidupan saya sebagai Graphic Designer. Dimana saat ini saya sedang mencoba menjalankan tim desain yang beranggotakan 3 orang + 1 saya sendiri. Untuk kedepannya saya ingin mencoba menambah jumlah personal tim untuk memperluas kategori desain yang dibuat.

Whoever you are, thanks for reading this! And have fun in life!

Headline pict: https://unsplash.com/photos/1_CMoFsPfso

Related Posts

5 comments

Ywd February 11, 2019 - 11:52 pm

Pertanyaan nya kenapa ya lulusan informatika banyak yg jadi designer berbagai bidang, saya sendiri juga dan banyak senior yang juga..lol padahal belajar nya lebih ke logika dan matematika ya…sedih tu temen bilang kamu mah skripsi lumayan mudah design padahal saya ambilnya data mining, mentang mentang bisa design dibilang in informatika kuliah nya design gitu ya, ampas..ga sama sekali kita ga belajar itu saya sendiri otodidak dan yg bisa design di tempat kuliah hanya beberapa org dan itu otodidak kebetulan mereka salah tempat.. sekedar share aja mba

Reply
Silvia Natalia February 13, 2019 - 1:29 am

tenang saja mas/ mba yanny, karena bnyk juga lulusan DKV tidak kerja desain

Reply
Rendy May 7, 2019 - 9:11 am

Salute! Mudahan saya bisa mengikuti jejak penulis ya.. sekarang masih berkutat dengan pekerjaan tetap & kontes logo serta kontributor bbrp microstock.. baru jalan 1 tahunan.. mudahan saya kuat ya dan fokus jd kontributor full… bye normal job 😀

Reply
Habib syafiudin June 6, 2019 - 6:05 pm

Saya lulusan pendidikan sosial, lagi on going s2 teknologi pendidikan..

Disaat yg sama bingung mau kemana, krn suka bgt bidang desain grafis ini…

Reply
Adit January 13, 2020 - 2:05 pm

Seneng dengen info seperti ini. ku kira aku doang yang merasa seperti ini. kuliah di jurusan Teknik Informatika. tapi hobby menggambar. jadi segala macam tugas kuliah yang berhubungan desain, aku yang ambil (biasa tugas di project kelompok). sedangkan untuk pembuatan aplikasinya atau codingnya juga sering terlibat sih. tapi kalo dibanding-bandingkan hasil aplikasi dengan desainnya lebih mencolok desain. kadang aplikasinya tidak memenuhi semua fitur yang diwajibkan. untuk tampilannya sudah sesuai

Reply

Leave a Comment